Memorabilia Perhelatan Saba Jenggala

Jumat, 9 September 2016
Bagi saya dan teman-teman selaku panitia pelaksana, hari itu –tepatnya satu hari sebelum penyelenggaraan, bahkan sudah kami anggap sebagai D-DAY, mengingat jalan ultra terjal sejauh kurang lebih 1 km yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki, mau tak mau harus kami lewati demi mengangkut kebutuhan logistik yang jumlahnya berjibun. Dan terbukti, sekitar kurang lebih 40 personel kami akhirnya kewalahan, namun beruntung datanglah bala bantuan dari warga karangtaruna desa Karangpatihan untuk menyudahinya, bahkan hingga keesokan harinya. Maturnuwun lek!
Difoto oleh: Gigih Kurnia


Sabtu, 10 September 2016
Kondisi fisik yang sudah lumayan hancur-lebur akibat bolak-balik naik turun gunung pada malam sebelumnya membuat saya terbangun terlalu siang pada hari itu, dan tiba-tiba saya teringat kalau barang-barang pribadi saya demi keperluan berkemah untuk malam harinya malah justru belum terjamah, seketika saya pamit kepada panitia lain untuk segera bergegas pulang ke kota demi bersiap sekaligus mengambilnya.
Sekembalinya saya di venue, yang pada saat itu siang telah menunjukkan pukul satu, cemas saya seketika berubah menjadi rasa gembira, karena sebelumnya saya khawatir bakal datang terlambat dan melewatkan aksi band pertama. Atas kejadian itu bahwa saya semakin haqqul yaqin kalau acara yang on time itu sejauh ini hanyalah mitos belaka (hahaha) karena ketika itu, sejauh penglihatan saya, area venue masih dijejali oleh segelintir panitia saja yang kesemuanya was-was dan terus berharap para personel band yang ditakdirkan untuk main awal segera datang.
Akhirnya, kurang dari pukul tiga sore, dengan dipandu oleh 2 pembawa acara yang hanya bermodal twist & guyonan murahan, Wendy & Gutomo, perhelatan Saba Jenggala dibuka oleh demonstrasi berbahaya KOMUNITAS REPTILIA PONOROGO yang menyuguhkan aksi-aksi rawan dengan memamerkan banyak peliharaan ular berbisa dalam ukuran besar dan panjang, sampai (jujur) saya sendiri geli dan ngilu untuk secara ajeg menyaksikannya. Ada yang menarik, yang menurut saya sepertinya ada miss dalam penampilan mereka tatkala itu, yakni pada saat closing act di mana ada salah satu dari mereka yang secara tidak sengaja kedua bola matanya tersembur oleh bisa ganas ular king kobra.
Selanjutnya, ROVERLIGHT –kuintet post hardcore dalam kota, yang secara penuh energi mengokupasi panggung, dan sepertinya saya paham benar tentang apa yang mereka rasakan pada saat itu, yang tidak bisa dipungkiri lagi, ditakdirkan untuk bermain pertama adalah sesuatu yang kurang mengenakkan, apalagi posisi penonton yang saat itu masih sangat sepi. Namun, yang saya lihat mereka tidak peduli akan hal-hal tersebut dan membayarnya dengan sebuah penampilan yang atraktif. Terbukti, 2 buah lagu cover berhasil mereka hidangkan dalam koridor rapih serta aman. Dan semoga ‘nilai jual’ band ini tidak terletak pada paras jelita kedua personelnya saja, namun tersua pada karya yang kelak mereka tawarkan. Tak tunggu rilisane yo, Mbak!
Berikutnya, VANAGANDR. Terakhir kali saya melihat penampilan mereka yaitu pada saat saya turut mengekor rangkaian mini tour 3 kota jawa timur pada pertengahan tahun 2016 lalu, dan sore itu sepertinya terjadi perombakan besar-besaran, di mana Agung Wibowo yang setahu saya dulu ia menjabat sebagai biduan, namun tugasnya kini diemban dan digantikan oleh Anggient Yudhistira yang sekaligus meranggap pada divisi gitar. Sulit untuk menarasikan penampilan band yang diprakarsai oleh Gigih Kurnia pada sore itu, entah karena saya yang terlalu larut dalam hinggar bingar crowd yang senantiasa liar berjejal tepat di bibir panggung atau terlalu teler menikmati setiap dentuman yang mereka suguhkan. Tentunya, satu buah lagu pribadi yang dicomot dari album demo mereka, plus 2 cover songs, masing masing Hallucination milik Matiasu dan Paranoid-nya Sabbath, sukses mereka ‘perkosa’ habis-habisan yang membuat status sore itu mau tidak mau semakin ambrol!
Waktu dan tempat selanjutnya dipersilakan untuk OBHC, old-skull hc/punk asal bumi wengker yang saya pribadi tiba-tiba terperangah ketika mereka memamerkan satu buah lagu baru dalam set-list mereka yang berjudul Hypocrite. Suasana semakin gegap gempita, di kala encore Attitude-nya Bad Brain mereka lafalkan dengan jelas nan lantang!
Di saat waktu jeda untuk persiapan penampil selanjutnya, di mana kebanyakan teman-teman yang lain memanfaatkan momen tersebut dengan mundur dan sedikit menjauh dari bibir panggung untuk sekedar duduk-duduk dan menghela napas demi mengumpulkan tenaga, namun (maaf) hal tersebut tidak berlaku bagi saya, karena tepat di depan saya pada saat itu, sudah terdapat tiga pemuda berperawakan dugal – biadap – badung – geladak, asu! Yap, HOWLERNESS. Trio indie-rock putra daerah yang akhir-akhir ini saya puja dan sanjung setinggi langit, sedang memeriksa sana dan sini demi kesempurnaan pentasnya sesaat lagi. Perlahan, lantai dansa berangsur memanas di kala (seperti biasa) anthem Rock and Roll-nya Zeppelin membuka penampilan mereka. Saya sendiri semakin terperanjat ketika mereka mempresentasikan materi terbaru mereka (yang belum mereka rekam sepertinya), lantas si penembang sedikit memberi bocoran sebelum memainkannya, kalau lagu baru tersebut dibikin khusus oleh sang pembetot bass, Vini Oktavianto. Hmmm, yang saya tangkap, kalau materi baru tersebut cukup jomplang dengan materi-materi mereka sebelumnya, di mana nyaris 90% didominasi oleh beat-beat punk kotor super kencang yang sesekali tiba-tiba anjlok berhenti serempak di tengah jalan khas sound-sound hard rock lawas tujuhpuluhan. Oke, dengan ini saya semakin berani bertaruh kalau band ini sejatinya lebih keren dari Kelompok Penerbang Roket, bahkan The Sigit sekalipun! Namun sayang, dengan pertimbangan singkatnya durasi waktu, pada sore yang sumringah itu, mereka terpaksa hanya membawakan 2 buah lagu.
Menjelang masa jeda tiba, akhirnya sesi pertama acara Saba Jenggala ditutup oleh penampilan trio punk rock gaek, KILLING MY FANTASY, yang secara pede membawakan materi-materi lawas yang mereka ciduk dari debut mini album mereka tahun 2012, tembang-tembang yang menjadi tulang punggung semacam: Percuma, Gak Masalah, plus encore The Rock Show kepunyaan Blink-182. Dan sangat pas sekali sepertinya, jikalau kalian ingat dalam video klip tersebut para personel Blink-182 sedang menghambur-hamburkan duit jutaan dolar di sepanjang jalan, maka sore itu, si tiga bapak-bapak tua itu juga sedang menabur-naburkan racun vitalitas dan girang hati di seluruh sudut bukit dan belantara hutan.
Setamatnya jeda maghrib hingga isya’, acara kembali berlanjut. Menurut catatan dari Galih Atmoko selaku stage manager, sepertinya keadaan rundown semakin berjubal, dampak dari molornya acara tadi siang, maka diputuskan pada malam itu bahwa setiap band hanya diberikan wewenang membawakan maksimal dua buah lagu saja. Aduh, sebenarnya saya pribadi sangat menyayangkan kondisi tersebut, namun apa boleh buat.
Oke, untuk analisis-analisis saya terkait band-band penampil berikutnya, sebelumnya saya memohon maaf untuk para pembaca sekalian (guaya!), bukan saya bermaksud membeda-bedakan atau -istilahnya pilih-pilih antara band yang satu dengan band yang lainnya, namun kondisi yang berbeda apabila dibandingkan dengan kondisi saya ketika sore hari, yang membuat pada sesi kedua malam itu, jujur, pikiran dan pandangan mata saya tidak terlalu fokus tertuju ke arah panggung, yang berakibat saya tak mampu menelaah secara detail setiap band yang unjuk kebolehan. Tentunya sangat berbeda dengan situasi pada sore hari-nya, yang mana saya kebanyakan nganggur, sehingga saya bisa menghabiskan waktu dengan berlama-lama di bibir mimbar untuk menyaksikan setiap band yang mengamalkan tugasnya. Berkenaan dengan job deskripsi saya, sebenarnya hanya berfokus untuk malam harinya, di saat saya bertugas istilahnya sok menjadi liaison officer (LO) bagi kepala desa (Bapak Eko Mulyadi) beserta jajaran dan perangkat desa yang hadir pada malam itu. Namun, disela-sela tugas tersebut, saya tetap berusaha untuk senantiasa menyempatkan diri menengok ke arah panggung, mencoba merekam di kepala dengan sekuat tenaga tentang hal-hal menarik apa saja yang ditawarkan penampil-penampil pada malam itu.
Lanjut, sesi kedua dibuka oleh penampilan SEVENSIX, yang pada malam itu sebagai satu-satunya deputi dari komunitas reggae. Tanpa aba-aba serta komando yang berlebih, crowd seketika meliar dengan dipicu oleh dibawakannya 2 buah lagu milik sang ehem, Bob Marley & The Wailers. Nomor-nomor wahid seperti Redemption Songs dan Three Little Birds membuat kurang lebih 700 pengunjung yang telah memadati area venue saat itu layaknya tersihir, dan sepertinya mantra serta guna-guna mereka belum berhenti sampai di situ, karena saya sendiri benar-benar laksana digendam oleh tatanan sound mereka, yang secara subyektif saya berani menyimpulkan, dari seluruh band, hanya mereka-lah yang berhasil menaklukan konstelasi bebunyian hingga mendekati angka sempurna.
Bagai yin dan yang, ada hitam ada putih, ada positif dan ada pula negatif, ada rahman dan ada pula rahim, maka SENJA dan MORE THAN BETTER, benar benar menjadi ‘penyeimbang’ untuk komposisi pada malam itu. Setelah sedari sore indra pendengaran dibombardir oleh bebunyian yang, oke cukup klise, (baca) ‘kurang ramah didengar’, maka pada saat hak pentas diberikan kepada ke-2 band tersebut, bak meteor jatuh, suasana malam itu sekonyong-konyong kulingdon, hanyut seluruhnya terbawa oleh atmosfer khidmad melalui lagu-lagu yang mereka bawakan, dan saya pribadi saking khusyuk-nya hingga terlena dengan direktori lagu mereka pada malam itu, yang seingat saya, SENJA sempat meng-cover lagu milik Paramore yang berjudul Still Into You, kalau saya tidak keliru.
Next, kawanan pengusung hardcore ‘orde baru’ tiba saatnya untuk pamer kepiawaian, dan secara kebetulan seingat saya mereka berada pada 1 plot waktu, yang secara berturut-turut ada MUTINEER HC, DUNG HOG, REBELS HC yang masih nyaman membawakan nomor-nomor superior milik Straight Answer, Serigala Malam, Fraud, hingga Terror.
Situasi lantai dansa semakin ‘barbar’ di kala Ponorogo’s punks rock celebrities, ANAK KEMARIN SORE mengambil alih pertunjukkan, dengan tanpa mengindahkan malam yang semakin larut, dan tanpa peduli setan siapa saja yang melihat penampilan mereka pada saat itu, entah itu pejabat desa, entah itu pemuda kampung, entah itu emak-emak lansia, mereka tetap dengan cabul dan biadap menggeber tembang-tembang hits punk lawas endonesa yang masih saja terdengar jaya semenjak saya masih duduk di bangku SMA. Sayang, momen yang saya nanti-nantikan, di mana momen debut untuk mereka mendemonstrasikan materi terbarunya, gagal mereka wujudkan.
Kemudian disusul oleh salah satu band lokal yang sudah sejak lama saya idolakan, yakni FUN FUN FOR ME. Band pop-punk pencolotan yang sudah kenyang akan pengalaman pentas yang pada malam itu bermain intens penuh peluh dan tenaga dengan membawakan 2 buah lagu yang dicomot dari debut album penuh mereka pada tahun 2013 lalu. Dibuka oleh single Ego diri dan ditutup dengan tembang Heartbeat yang secara dadakan mereka mengajak Delvi (Vokalis Roverlight) untuk ber-featuring-an. Ada yang sempat menggangu di penglihatan saya di sepanjang penampilan mereka, terutama pada saat, tidak jarang strap gitar Wendy coplok beberapa kali, sehingga otomatis mempengaruhi volume aktifitas pencolotan mereka. Terlepas tidak adanya kehadiran Franc Hidayat pada sektor synth yang pada malam itu musti kembali berhalangan, namun dengan dibantu oleh pemain tambahan, Arga Dwi pada divisi gitar, mereka berempat tetap bermain necis tanpa nista.
Nah ini nih yang sedikit rancu, karena saya benar-benar lalai dengan nama band death metal yang unjuk kebolehan berikutnya, apakah itu ATHERECTOMY, atau CRUELTY MUTILATED, atau DISSEMINATED INTRAVASCULAR ya? Yang jelas, cukup menarik perhatian saya pada saat itu, yang jujur, sebelumnya saya belum pernah sekalipun melihat penampilan mereka. Berpersonelkan 4 manusia: drum – gitar – dan 2 orang biduan, satu hal yang membuat saya seketika terpukau yakni dari pembagian porsi 2 olah vokal mereka yang cukup unik menurut saya, di mana yang satu dapet jatah growl dan yang satunya scream. Begitulah kurang lebihnya. Recommended Band! Semoga bisa berjumpa kembali di lain waktu dan kesempatan ya!
Gelanggang pentas selanjutnya diakuisisi oleh satu unit pembawa dendang thrash metal syarat kebut-kebutan, ALLIGATOR, yang secara personal, khusus pada malam itu saya pribadi mempunyai ekspektasi berlebih dengan band ini, mengingat tepat satu hari sebelumnya saya baru saja dipameri oleh rekan Sihab single terbaru mereka yang usut punya usut mereka merekamnya hingga jauh-jauh ke kota Ngawi dan sejauh ini single tersebut belum terpublikasikan secara massal. Dan pada malam itu, melihat mereka dari sudut kejauhan, akhirnya rasa penasaran saya terbayar lunas oleh satu per satu presentasi dari empat pemuda gondrong yang di sepanjang pentas, mereka senantiasa mengkibas-kibaskan rambutnya. At least, sama-sama berada di wilayah negara dunia ketiga, band ini sedianya berani kok disabung dengan produk-produk asal Brasilia semacam Sepultura. Bukan begitu?
Dan akhirnya, sesi kedua malam itu, sesi di mana berakhirnya babak ben-benan, ditutup oleh performa RAY-OX, yang di kala melangsungkan instumen pembuka, band ini semacam melakukan gimmick sok misterius dengan menghilangnya sang vokalis (Angger), yang berhasil membuat saya dan tidak sedikit penonton pada malam itu semakin bertanya-tanya. Alhasil, pada saat intro Killing in The Name milik RATM yang mereka bawakan memasuki paruh waktu sekitar satu menitan, tiba-tiba Angger menampakkan diri dengan berlari bertelanjang dada dari arah tenda menuju ke arah panggung dan berteriak-berteriak histeris laiknya orang kesurupan. Band yang sok nge-hip rock ini semakin membuat saya terpingkal di kala mereka memparodikan lirik, tepatnya pada chorus “And now you do what they told ya” dengan memplesetkannya menjadi “Dagadu Dari Jogja” (Mbokne, Ancuk!!!). Sejurus kemudian, band ini lagi-lagi membuat prediksi saya meleset di kala mereka menunaikan tembang kedua-nya. Bukannya membawakan lagu-lagu dari band-band hip rock/metal internasional serupa, mereka justru membawakan Master of Puppets milik Metallica plek seperti versi aslinya (Wangun!).
Belum rampung sampai di situ saja, selanjutnya masih ada sesi-sesi menarik yang di antaranya adalah penampilan teman-teman Stand Up Comedy Ponorogo, pemutaran 2 buah film pendek oleh teman-teman KOFPI (Komunitar Film Indie Ponorogo), dan tentunya sesi “Creative Talks” di mana saya yang bertugas untuk memediasi dan memoderasinya.
Dimotori oleh komika ARIF ANDANA, dengan waktu yang telah menunjukan nyaris menjelang tengah malam itu sepertinya tak terlalu digubris dan bukan suatu masalah bagi mereka para punggawa komunitas Stand Up Comedy Ponorogo, yang berhasil menyulap suasana lelah letih lesu dan menuju kantuk itu menjadi sebuah parade gelak tawa seisi bumi perkemahan Gunung Beruk tanpa terkecuali. Dan satu point yang saya tangkap pada saat sesi perbincangan dengan mereka, yaitu sebenarnya komunitas ini telah ada dan lahir jauh-jauh sebelum trend stand up komedi mulai diekspos masif oleh banyak stasiun tv swasta nusantara, serta credit point lain, ternyata sejauh ini mereka masih konsisten dan mandiri dalam meng-organize banyak show stand up comedy di dalam kota secara kolektif tanpa adanya campur tangan korporasi swasta maupun pemerintah. Salut!
Selanjutnya adalah sesi nonton bareng 2 film pendek yang dipersembahkan oleh teman-teman KOFPI. Dan film pertama yang diputar yaitu berjudul CEPERAN. Film yang bertemakan sosial (sekaligus budaya) ini cukup menarik perhatian saya, di mana secara menyeluruh film ini banyak menyentil tentang perilaku-perilaku penyelewengan fulus (baca: korupsi), dan cerdasnya lagi, sang sutradara menganalogikannya dengan sesuatu yang sangat-sangat simpel dan sederhana, yakni dengan ‘menugaskan’ seorang anak kecil yang secara kebetulan dalam film ini menjabat sabagai tokoh utama lantas menuangkannya dalam banyak scene-scene yang memikat salah satunya pada saat anak kecil tersebut ‘menggelapkan’ uang yang sebenarnya uang itu adalah uang kembalian ketika sang bapak menyuruhnya untuk membeli sebungkus rokok.
Pemutaran film kedua yaitu berjudul RINO WENGI. Terhitung, sebenarnya sudah 3 kali saya melihat film yang disutradarai oleh sohib saya, Gelora Yudhaswara tersebut. Film dengan durasi tidak lebih dari 30 menit yang baru saja memenangkan penghargaan dalam Festival Film Surabaya 2016 untuk kategori produksi dan karya terbaik ini, memang benar-benar membuat kebanyakan penonton seketika tersentak, lha bagaimana tidak, ada satu scene yang menurut saya cukup kontroversial, di mana ada bagian yang mempertontonkan seorang wanita remaja yang hanya berbalut selimut, sedang melakukan adegan masturbasi dengan menggunakan sebatang kayu, dan tentunya tanpa sensor (Fuck ka-pe-i! Fuck lembaga sensor pilem endonesa!). Film yang secara inklusif bercerita tentang ‘pergulatan hati’ seorang wanita yang dalam rangka memperjuangkan tingkat kesetiaanya hingga taraf muhsinin akibat ditinggal mati oleh suaminya ini, cukup sensitif jika masing-masing dari kita hanya melihatnya dari segi dan sudut pandang yang dangkal.
Berikutnya, sesi bincang pamungkas dengan para pegiat dan pelaku komunitas seni, yang kebetulan di babak ini diwakili oleh Mas Catur (perutusan dari Keluarga Alumnus ISI Jogja di Ponorogo) dan Mas Aris Enyeng (delegasi dari kelompok seni rupa). Dan banyak hal menarik sebenarnya yang berhasil saya gali buah interogasi saya dengan kedua insan tersebut pada waktu yang telah melewati tengah malam itu. Pada saat mereka juga sepertinya senada dengan pernyataan yang sempat saya lontarkan di tengah perbincangan bahwa pemerintah daerah sejauh ini masih –istilahnya lebih ‘memperdulikan’ seni tradisional dibandingkan seni kontemporer. “Membutuhkan proses yang tidak sebentar Mas terkait hal ini, soalnya mau bagaimanapun juga, dan tidak bisa dipungkiri lagi, kalau budaya reyog sudah terlanjur mengakar dan tidak sedikit pula berpengaruh terhadap corak berkesenian masyarakatnya. Dalam konteks seni rupa, perlu waktu untuk -istilahnya mengadaptasi atau mentransformasikan banyak ragam, motif, pola di dalamnya, dengan demikian hasil inovasinya kelak dapat diakui dan diapresiasi positif oleh masyarakat hari ini” celoteh Catur menimpali. Lalu, mas Aris Enyeng mencoba menambahkan, dan hal ini menurut saya satu yang paling esensial selama perbincangan dengan mereka berdua, bahwa pegiat-pegiat seni di sini sebenarnya sudah sejak lama mendambakan adanya sebuah kawasan atau pusat kesenian, semacam museum budaya atau semacam ruang publik yang di dalamnya termuat arsip-arsip sejarah budaya lokal yang semuanya itu nantinya dapat diakses oleh publik luas. Lebih lanjut, toh ruang tersebut juga nantinya bisa dipakai buat pameran secara reguler dan berkala.
(Ponorogo iku salah sijine kutho budoyo lho, moso ora nduwe museum? halah prek!)
Sekian



















Artikel oleh : Neoan Perdana Timor


Diberdayakan oleh Blogger.