Header Ads

[ARTIKEL] TENTANG BAGAIMANA PONOROGO MEMAKNAI (kata) FESTIVAL

Sebulan lalu, tepatnya dari awal sampai akhir bulan September, apakah hanya saya saja ya yang merasakan gatel & geli karena terus dicekoki oleh publikasi gila-gilaan acara kebudayaan tahunan Grebeg Suro di seluruh lintasan jalan protokol kota Ponorogo? Bukan karena saya tidak tertarik dengan konten-konten acaranya, namun fokus saya malah tertuju pada materi publikasinya tersebut yang saya rasa-rasa kurang begitu tepat.
Mengacu pada judul tulisan saya kali ini, terdapat satu konten acara pada perayaan Grebeg Suro tersebut, yang bisa dibilang acara ini notabene merupakan acara unggulan dan yang paling dinanti-nanti oleh seluruh masyarakat Ponorogo, -bahkan luar kota Ponorogo. Yaitu kompetisi/lomba tari reyog berskala nasional yang pada materi publikasi tersebut ditulis dengan gagahnya: “FESTIVAL NASIONAL REYOG PONOROGO” Eh bentar-bentar, itu acara perlombaan atau festival??? Sebelum teman-teman menilai benar-salah dan apakah tagline FNRP tersebut sudah tepat atau belum,
mari kita cari tahu terlebih dahulu, bagaimana dan apa makna sebenarnya dari kata FESTIVAL itu sendiri. Menurut W.J.S Purwadarminta dalam buku Kamus Umum Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga:
“Festival, dari bahasa Latin berasal dari kata dasar "festa" atau pesta dalam bahasa Indonesia. Festival biasanya berarti "pesta besar" atau sebuah acara meriah yang diadakan dalam rangka memperingati sesuatu. Atau juga bisa diartikan dengan hari atau pekan gembira dalam rangka peringatan peristiwa penting atau bersejarah, atau pesta rakyat”.
Sedangkan menurut Wikipedia:
“A festival is an event ordinarily celebrated by a community and centering on some characteristic aspect of that community and its religion or traditions. It is often marked as a local or national holiday, mela, or eid”
“Festivals often serve to fulfill specific communal purposes, especially in regard to commemoration or thanksgiving. The celebrations offer a sense of belonging for religious, social, or geographical groups, contributing to group cohesiveness. They may also provide entertainment, which was - particularly important to local communities before the advent of mass-produced entertainment. Festivals that focus on cultural or ethnic topics also seek to inform community members of their traditions; the involvement of elders sharing stories and experience provides a means for unity among families”.
Cukup dengan berdasar dari dua rujukan di atas saja, (meskipun masih banyak sebenarnya pranala atau referensi-referensi yang lain) teman-teman sepertinya sudah bisa kan menyimpulkan bahwasanya makna kata “festival” sejauh ini sangat sering di salah artikan sebagai perlombaan atau kompetisi. Padahal antara kata “festival” & “lomba” sejatinya mempunyai makna yang jauh berbeda. Poinnya, sebuah festival itu secara harfiah tidak ada kaitan dan korelasinya dengan suatu konsep perlombaan.

Oh iya, tulisan saya kali ini bukan bermaksud untuk mendiskreditkan acara dan tim kreatif di FNRP.
Murni hanya saya jadikan sebagai sedikit contoh dari sekian banyak materi publikasi yang kurang tepat dan terus beredar luas di ruas jalanan kota Ponorogo selama bertahun-tahun belakangan ini.
Buktinya, tidak jarang pula teman-teman pembaca di sini mendapati sebuah baliho/poster sebuah acara pensi SMP-SMA dengan tagline “FESTIVAL MUSIK PELAJAR” yang ternyata konsep acara tersebut tak jauh dari sebuah kompetisi antar grup band dan adu skill masing-masing player-nya demi mengejar sebuah predikat juara.
Sekali lagi, dari dalam hati saya yang paling dalam, saya benar benar tidak menyalahkan konsep acaranya, yang saya gubris di sini lebih ke materi publikasi acara-acara tersebut yang masih terus aja salah kaprah dan menimbulkan kerancuan.
Sekaligus saya hendak mengucapkan salut dan memberikan apresiasi setinggi langit untuk acara-acara di Ponorogo yang sejauh ini telah cukup baik dan benar dalam mengaplikasikan sebuah acara festival, baik itu secara konsep acara maupun materi publikasinya, sejauh yang saya tahu seperti: Festival Budaya Bedingin Bungah, Ponorogo Hari Ini, Festival Saba Jenggala, Festival Musik Urban Culture Soundsation, Festival Musik Rock In Reyog, dsb.

Oke, seyogyanya di sini saya mencoba untuk tidak melulu mengkritik tim kreatif para penyelenggara / organizer khususnya acara musik yang kebanyakan masih belum terlalu ‘ngeh’ dengan hakikat makna festival itu sendiri, yang menyebabkan kerancuan dalam publikasi-publikasi acara yang beredar, dan bisa jadi berakibat fatal terhadap daya kembang pengetahuan dedek-dedek anak band dan kids-kids zaman now yang terus-menerus didulang oleh sebuah term yang keliru, “kalau suatu festival musik itu ya adalah acara kompetisi band”.
Dan yang lebih saya khawatirkan lagi, mereka beranggapan bahwa –semisal acara Soundrenaline dengan tagline mahsyurnya “The Biggest Indonesian Music Festival” atau Jogjarockarta sebagai "International Rock Music Festival" ialah sebuah acara perlombaan band, apakah tidak lucu juga kalau yang mereka angan-angan Chris Carraba-nya Dashboard Confessional tengah beradu skill gitar dengan Eross S07 dan ternyata the best gitarnya adalah Erix Soekamti??? Atau Hammersonic Festival deh, dengan tagline-nya: “The Biggest Metal Festival in Asia Pacific”, Apakah dalam acara tersebut seorang Dave Mustaine sedang mengejar predikat the best gitar se-dunia dengan harus mengalahkan kepiawaian permainan gitar si Arian? Sedangkan di panggung sebelahnya, bisa saja Kang Dadan Ketu sedang diam-diam menyogok Wendy Putranto yang bertindak sebagai juri untuk memuluskan tujuannya agar Burgerkill bisa mengalahkan Revenge the Fate #eh. Haha bercanda!
Semoga kerancuan pemaknaan kata festival pada setiap materi-materi publikasi ini segera berakhir ya Gusti. Apa jadinya coba semisal sebuah Festival Kebudayaan, Festival Kuliner, Festival Film, atau Festival Keagamaan dimaknai sebagai perlombaan?

Artikel ini ditulis oleh Neoan Perdana Timor (kontributor benbenan.com) dan pernah diterbitkan di sesi workshop event Rock In Reyog 2017.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.