Bincang Blak-Blakan Bersama BLACK RAWK DOG


Akhir pekan lalu saya berkesempatan untuk berpakansi-pangrok ria atas titah dari sang junjungan nabi besar kita, Joe Strummer ke sebuah daerah yang seumur hidup baru pertama kali itu saya mengunjunginya. Tretes, sebuah daerah dataran tinggi yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Alih-alih daerah wisata, hipotesis saya seketika itu lebih condong menyebut Tretes sebagai daerah 1001 villa. Yap, 1000 tempat penginapan dengan 1 tujuan ‘wisata’, lantaran hampir di sepanjang jalan raya Tretes tersebut saya masih belum bisa menemukan sebuah plang yang menjadi penunjuk arah untuk menuju ke sebuah lokasi rekreasi. Sepakat dengan apa yang tertulis di laman Wikipedia, bahwa kata “Tretes” itu berasal dari kata air yang menetes dan berbunyi tes tes tes. Sepakat dalam arti, kata “air” di sini tentunya bukan dalam konteks dan pemaknaan yang sebenarnya.

Waktu itu saya dalam rangka menginthil band Oi!/Punk kawakan kebanggan kota Ponorogo, “Salah Sambung” yang kebetulan diberi mandat untuk turut unjuk gigi di sebuah gig partikelir tahunan yang diinisiasi oleh bapak skinhead jatim, Mas Irawan Putranto dan telah memasuki edisi keduanya di tahun ini. Tajuk pertunjukannya ialah “Punk goes to Villa” yang secara otomatis membuat kami semua sedari awal sudah membayangkan dengan empot-empotan, sebuah konser liar di dalam rumah, tanpa sekat tanpa barikade, cukrik disiram di ruang sana, muntah meledak di pojok situ, intim, paripurna! Namun seluruh prediksi meleset, yang ternyata konsep acaranya lebih nyantai dan terkesan menomor-duakan pertunjukan band-nya itu sendiri, terbukti dengan lokasi acara yang digelar di pelataran belakang villa yang sangat luas. Tepat pukul 8 malam tiba di lokasi, kami langsung disambut oleh kamerad dari Kertosono, Mas Ipung dan sejurus kemudian seorang remaja ramah nan rupawan yang tak asing lagi bagi saya, Mas Edrea —biduan sekaligus pengocok gitar bolong di band asal kota udang yang saat ini namanya tengah hangat diperbincangkan, Black Rawk Dog menghampiri & menjabat tangan kami semua.

Mengacu pada judul tulisan kali ini, sejatinya saya tidak sedang mengulas jalannya pertunjukan acara. “Gig ini lebih bertujuan sebagai media untuk temu rindu kawan-kawan lama Mas dan ajang untuk siapa tahu bisa berkenalan dan menambah teman-relasi baru” -seloroh Mas Irawan di samping saya, yang sepertinya diamini pula oleh sekitar 100-an orang yang memadati teras belakang villa tersebut. Sependapat dengan Mas Irawan, mengingat pemandangan yang saya tangkap di sepanjang acara, mereka seolah lebih asyik untuk nyukrik, bergerombol sembari khusyuk berbincang dan seakan semuanya sangat acuh alias gak ngreken pada setiap band yang tampil di acara tersebut.

Oleh karena itu, yang dari awal niat saya hendak me-review gig ini, menjadi beralih ke sebuah tulisan semacam transkrip wawancara, meskipun saya sendiri tidak berani menyebutnya sebagai sebuah sesi interview, karena dalam metode dan prosesnya di samping kondisinya serba spontan, saya pun tanpa gimmick dan tanpa piranti perekam seolah-olah saya hendak melakukan sesi wawancara dan akan mempublishnya di blog/webzine saya. Semua perbincangan mengalir begitu saja. Hingga pada akhirnya ketika saya sampai rumah, lantas saya terus saja kepikiran, mengapa tidak saya rekap saja hasil bincang-bincang kemarin, karena saya rasa banyak obrolan- obrolan penting dan jawaban jawaban inspiratif yang masih sangat saya ingat dan perlu untuk dipamerkan kembali ke publik, khususnya untuk teman-teman saya di Ponorogo.

Black Rawk Dog (BRD), kolektif celtic folk punk asal kota Sidoarjo yang pada bulan Juli lalu baru saja melepas mini album perdana bertitel Suburbans Folk Stories di bawah bendera WLRV RECORDS -label rekaman asal kota gudeg Jogja. Saya menahbiskan diri sebagai fans berat band tersebut sejak tahun 2016 lalu, ketika untuk pertama kalinya saya berkesempatan untuk melihat penampilan live mereka di sebuah festival punk di kota Jombang. Gentas mereka naik pentas, saya menghampirinya lalu memaksa mereka untuk mau berkenalan dengan saya, haha! Lalu berlanjut ke ranah sosial media, atas nama rasa penasaran, saya mencoba untuk terus mencari informasi tentang band tersebut, hingga pada akhirnya saya menemukan akun instagram mereka, yang pengikutnya masih di angka 200-an orang. Sekali lagi 200-an orang! Masih seperlima dari jumlah followers instagram mereka pada saat ini. Kasus ini cukup menarik dari kacamata saya pribadi, bagai peribahasa tidak ada asap kalau tidak ada api, pastilah ada sesuatu di tubuh BRD dalam kiprah mereka di 1 tahun ini yang menjadikan mereka banyak diperbincangkan oleh para praktisi musik dan media-media musik baik dari dalam maupun dari luar negeri.

Akhirnya, malam itu menjadi kali kedua pertemuan antara saya dengan Mas Edrea (E). Setelah dirasa cukup berpeluk, berjabat tangan, dan sedikit basa-basi, saya pun langsung melontarkan banyak pertanyaan-pertanyaan yang menjurus ke arah ‘dapur’ BRD dan memaksanya untuk mau gak mau meladeni saya, meskipun dia nyambi wara-wiri menjadi teknisi panggung pada saat itu.

N: Halo Mas Edre, piye kabare sampean? Lho kok BRD gak maen pisan nang acara iki?
E: Halo, Mas Neoan. Kabar baik. Waduh BRD tidak bisa maen mas. Beberapa personel lain kebetulan berhalangan, termasuk si Adam yang gak bisa dateng. Ini nanti bantu-bantu RJ Power aja.

N: Bantu-bantu RJ Power? (*RJ Power adalah band Oi/Punk gaek yang juga berasal dari kota Sidoarjo)
E: Iya Mas, kebetulan saya dan Boliph (*pemain biola BRD) diangkut jadi personel RJ Power. Tapi Boliph di RJ Power nge-drum. Dobel-dobel Mas ceritane, soale personile RJ Power ilang kabeh.

N: Gak masalah yo Mas mbagi waktu dan porsinya dengan BRD?
E: Oh Santai kok, Mas. Tapi untuk saat ini yang jadi prioritasku yo BRD, Mas.

N: Oalah begitu. Terus, piye Mas perasaan sampean pribadi menanggapi respons positif sejauh iki terhadap lahirnya debut EP Suburbans Folk Stories? Sampai-sampai yang saya ikuti, media musik nasional bahkan internasional memberikan atensi dan ulasan yang cukup baik terhadap EP tersebut?
E: Wah iya, Mas. Seneng banget & campur aduk lah pokoknya. Benar-benar kami gak menyangka dapat apresiasi sedemikian banyak itu. Mulai dari Felix Dass via Qubicle, terus media musik asal Bali, Mave Magazine, Warning Magz dari Jogja, ditambah pula banyaknya praktisi praktisi musik dari Polandia, Inggris, dan Spanyol yang memberikan ulasan positifnya kepada Suburbans Folk Stories. Tapi beberapa ada yang menurut saya terlalu berlebihan, Mas.

N: Terlalu berlebihan? Maksude piye, Mas?
E: Iya Mas, lebay yen menurutku. Sebuah media dari luar ada yang sampai menulis kurang lebih seperti ini Mas, “The Cloves and The Tobacco –band celtic punk asal Jogja menduduki puncak tangga lagu sebagai album celtic punk terbaik pada tahun 2016, dan sepertinya BRD juga akan menyamainya di tahun ini. Jika kamu merasa kecewa dengan album terbaru Dropkick Murphys, lihatlah bagaimana BRD menjaga warisan musik mereka. Kamu akan menikmati Suburbans Folk Stories” Ya itu kalau menurutku sih pujian yang terlalu berlebihan, Mas.

N: Lha aku sebagai penggemar beratmu yo sepertine sependapat wae lho Mas. Ya gitu Mas, wong namanya opini subyektif. Tapi seumpama dibaca secara menyeluruh tentang ulasan mengenai Suburbans Folk Stories di webzine tersebut, ya gak bisa disalahkan juga kalau dia sampai menulis seperti itu. Soalnya sepertinya dia sudah sejak lama mengikuti dan menaruh perhatian lebih ke scene dan band-band celtic punk di Indonesia yang menurutnya lebih berkarakter jika dibanding band-band celtic punk di benua Eropa, misalnya.
E: Ya bisa jadi seperti itu, Mas. Tapi kan kalau dibandingkan dengan The Cloves & The Tobacco, atau Forgotten Generation, atau Skarockoi misal, arek-arek BRD ya masih belum ada apa apanya, Mas. Isik bau kencur-lah istilahnya! Namun, terlepas dari hal itu semua saya mewakili teman-teman di BRD mengucapkan terima kasih atas semua apresiasi yang diberikan, juga teman teman yang sudah membeli CD Suburbans Folk Stories, kami haturkan terima kasih.

N: Nah ini dia, bagaimana Mas progress penjualan CD Suburbans Folk Stories di triwulan pertama pasca perilisan? Sudah ludes berapa kopi kalau boleh tahu?
E: Sejauh ini, menurut laporan dari WLRV selaku pihak label, kalau tidak salah sudah terjual di angka 400 kopi, Mas. Itu belum termasuk yang versi kaset, karena bersamaan dengan perayaan Cassette Store Day (CSD) pada tahun ini, WLRV yang berkongsi dengan EMPATI Records —label asal kota Sidoarjo, tengah meluncurkan kembali Suburbans Folk Stories dalam format kaset pita sebanyak 100 kopi. Kabar bahagianya, khusus di CSD Jogja kemarin telah terjual semuanya alias sold out, Mas.

N: EDAN!!! Eh sebentar, EMPATI Records kalau saya tidak keliru label milik Mas Andika ya? Bagaimana bentuk keterlibatannya terdahap re-issue Suburbans Folk Stories dalam format kaset pita ini, Mas?
E: Benar sekali. Andika - drumer The Shantoso, justru ia lebih dikenal sebagai pemilik entitas bernama TERSERAHATI, online music store terkemuka di kota Sidoarjo. Jadi, keterlibatan Empati Records di sini sebagai co-release WLRV dalam hal pendistribusian kaset Suburbans Folk Stories khususnya di kota-kota area Jawa Timur. Sementara ini masih di 3 kota, Mas: Surabaya, Sidoarjo, dan Malang.

N: Berdasar cerita-cerita menyenangkan itu, tentunya BRD tidak bisa mengesampingkan begitu saja kan peran pihak WLRV? Bisa diceritakan bagaimana proses awal kerjasama dengan WLRV? Apakah BRD musti mengirim promo kit -demo tetek-bengek ke pihak WLRV? Atau justru dari pihak WLRV-lah yang menemukan BRD sehingga muncul ketertarikan untuk merilis Suburbans Folk Stories?
E: Iya Mas, BRD sangat mengakui peran besar WLRV dalam perilisan Suburbans Folk Stories ini. Jujur, kami sangat terbantu terutama dalam hal produksi dan distribusinya. WLRV mengakomodasi dan meringankan kerja kami untuk mendistribusikan sekaligus mempromosikan Suburbans Folk Stories hingga ke skala nasional. Terhitung EP Suburbans Folk Stories ini telah tersebar merata di tidak kurang 15-an record stores khususnya kota-kota di pulau jawa. Kondisi tersebut sepertinya berat apabila kita kerjakan sendiri tanpa adanya kerjasama dengan pihak WLRV. Oh ya, mengenai proses awal kerjasama kami dengan pihak WLRV, sebenarnya antara kami dan Mas Miko sudah terjalin pertemanan yang cukup lama, jauh sebelum gagasan EP Suburbans Folk Stories lahir. Sehingga, proses awal kerjasamanya menjadi lebih cepat dan sederhana. Pada saat itu, ketika tahap mastering semua materi di Suburbans Folk Stories rampung, kami kontak Mas Miko, dan ya terjadilah kesepakatan. Kerjasama atas nama pertemanan, Mas. Selain itu, kami menganggap WLRV sangat ideal bagi Suburbans Folk Stories sendiri, mengingat semua di sini sudah tahu track record WLRV yang sejak awal berdiri sudah sangat terfokus pada perilisan-perilisan ep, album, kompilasi band band yang bernafaskan celtik punk. Ya, kira-kira begitulah Mas kurang-lebihnya.

N: Oalah begitu. Lha Mas Edre sendiri selain bermusik di BRD & RJ Power, apa saja kegiatan sampean di luar itu?
E: Selain band-bandan kebetulan saya juga bikin-bikin zine, Mas. Bantu-bantu arek-arek di Sidoarjo juga dalam hal pengorganisiran acara, termasuk yang belum lama kemarin Sidoarjo Zine Fest. Di luar musik, saya juga terikat kerja dengan sebuah agen travel umroh-haji kayak gitu-gitu, Mas. Hehehe. Lha habis acara ini nanti aja, sepertinya saya langsung bablas ke Kediri, aduh tanggungan gawean, Mas.

N: Wah, bikin zine? Namanya apa, Mas? Cetak apa digital? Siapa aja yang terlibat dan sudah sampai edisi ke berapa, Mas?
E: Iya Mas. Nama zine-nya “Sisa Kertas”. Sejak tahun 2007 hingga kini, masih sampai di 4 edisi cetak. Kebetulan sebagian anak-anak di BRD juga saya ajak untuk terlibat. Adam sebagai tukang layout, sedangkan Boliph untuk urusan produksi dan distribusi.

Perbincangan saya dengan Mas Edrea untuk sementara itu tidak bisa dilanjutkan, karena pada saat yang bersamaan banyak kendala teknis terjadi di panggung yang mengharuskan dia musti bertanggung jawab, selain itu, tidak berselang berapa lama kemudian, tiba giliran RJ Power yang didaulat untuk menutup rangkaian gig tersebut. Selesainya acara, saya diajak Mas Irawan & anak-anak RJ Power untuk mengisi perut, dan secara kebetulan pula di sebuah warung itu saya semeja dengan Mas Boliph. Akhirnya ada kesempatan mengobrol dengan dia, meskipun saya sendiri harus sabar karena kondisinya yang sudah kacau balau sejak dari awal saya tiba di lokasi pertunjukan. Berikut rekap obrolan ringan cum singkat saya dengan Mas Boliph (B):

N: Halo Mas Boliph! Test test. Piye wis lumayan enak durung, Mas?
B: Hehehe halo, Mas! Kari luwene iki, Mas.

N: Sik to, Mas. Aku meh takon, opo bener ta sampean tepak maen mbek RJ Power nang Jambore Skinhead Malang wingi, baru dapet tiga lagu sampean wis nggeblak ambyar dan gak iso nglanjutno teko bar?
B: Jancok! Emang sampean teko pisan ta Mas wingi? Gak ngerti aku, Mas. Aku wis gak eling opo-opo!

N: Aku gak teko, Mas. Tapi berita iku viral! Sekarang begini, dengan tingkat ambyar sedemikian itu, apakah sering juga mengalami hal-hal serupa ketika sampean maen mbek BRD?
B: Oh, kalau sama BRD santai, Mas. Dosis permabukan ku hampir sama kok di setiap show. Kalau pas maen sama BRD kan semua tak pasrahke Edre, Mas. Dadi aman! Hahaha...
E: (Mas Edrea yang duduk tidak jauh dari meja kita, tiba-tiba menyahut) TAK CONYOK ROKOK CANGKEM-MU, LIPH!

Ya sepertinya cuma itu obrolan yang saya ingat ketika sama Mas Boliph. Selebihnya kita lebih memilih khidmad melahap makanan ketimbang saling berbincang. Kelar makan, kami diajak untuk kembali ke villa, namun sayang, saya musti berpisah dengan Mas Edrea dan Mas Boliph dikarenakan kami berbeda villa. Jadi ceritanya, karena disebabkan oleh banyaknya band/kawan-kawan luar kota yang datang pada acara itu, memaksa Mas Irawan selaku penyelenggara untuk membuka dua buah villa, dan kebetulan juga jaraknya saling berjauhan.

Sesampainya saya di villa, yang waktu itu sudah menunjuk pukul 2 dini hari, sebelum masing-masing dari kami beranjak tidur, saya menyempatkan diri mengobrol banyak dengan Mas Irawan. Termasuk obrolan-obrolan yang masih di seputaran BLACK RAWK DOG, karena sebenarnya masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang mengendap di otak dan belum sempat saya tanyakan langsung ke Mas Edrea atau Mas Boliph.

Oh iya, Mas Irawan ini adalah salah satu orang yang menurut saya cukup berpengaruh juga di scene punk Malang-Sidoarjo semenjak akhir tahun 90-an. Ketika sempat bermukim di Malang, beliau pernah terlibat di proyek-proyek musik keren –yang beliau keberatan untuk saya tulis di sini. Lantas, ber-transmigrasi ke Sidoarjo di sekitaran awal tahun 2000, beliau bergabung dengan RJ Power, bukan menjadi personel namun lebih ke sebagai road manager.

Mas Irawan sendiri secara personal sangat dekat dengan para masing-masing personel BRD. Bahkan menurut saya, beliau sangat pas jika suatu saat nanti BRD dirasa perlu untuk menunjuk satu orang sebagai manager. Sehingga, jawaban-jawaban beliau seputar pertanyaan-pertanyaan dari saya tentang BRD, menurut saya bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Berikut rekap obrolan-obrolan penting yang masih sangat saya ingat dengan Mas Irawan (I):

N: Mas Irawan belum ngantuk? Bisa diceritakan secara singkat Mas gimana kok bisa Mas Edrea dan Mas Boliph ditarik menjadi personel RJ Power? Gak kasihan ganggu fokus mereka di BRD?
I: Oh belum Mas Neoan, santai kok. Iya, awalnya Boliph duluan, baru tidak berselang lama kemudian si Edre gabung. Tapi Boliph di RJ Power nge-drum, dan si Edre tetep nggitar. Ya bener itu Mas apa yang dibilang Edre di awal, kalau para personel lama di RJ Power sudah tidak bisa lanjut. Karena saya sendiri punya prinsip kalau sebuah band itu ada baiknya rutin mengadakan latihan, paling tidak seminggu satu kali, atau sebulan minimal 3 kali lah, bukan latihan kalau besuk mau pentas aja. Sejauh ini masih oke-oke saja, Mas. Pinter-pinternya mereka berdua sih bagi waktu dan porsi untuk BRD - RJ POWER - dan pekerjaan.

N: Dengan kiprah dan pencapaian BRD saat ini, apalagi ditambah dengan sukses dan meledaknya EP Suburban’s Folk Stories, pastinya tawaran panggung untuk BRD tidak hanya datang dari acara komunitas saja. Setahu sampean, bagaimana anak-anak BRD menyikapi hal tersebut? Apakah masih nyaman-nyaman aja hanya bermain di lingkup acara komunitas? Dan bagaimana pula ketika mereka dapat tawaran dari acara-acara, semisal acara yang bersponsor korporat?
I: Oh kalau untuk itu, jadi begini Mas, kondisi scene musik di Surabaya-Sidoarjo sendiri untuk saat ini sudah semakin cair, beda kalau dulu aroma gap antar scene musik di sini sangat terasa. Untuk di BRD sendiri, arek-arek flexible kok Mas untuk terlibat di acara yang diorganisir komunitas musik lain. Tidak jarang pula BRD maen di acara komunitas hardcore/punk/ska/metal, bahkan ketika anak-anak BRD bikin acara, ya tidak sungkan juga untuk mengajak band dari komunitas musik lain untuk turut terlibat.

Agak beda lagi jika berhadapan dengan sebuah acara yang di dalamnya ada keterlibatan korporasi besar, -perusahaan rokok semisal. Saya sendiri setuju dengan BRD terutama Edre yang sejauh ini masih sangat kenceng dan selektif terhadap tawaran-tawaran seperti itu. Cukup kompleks juga sebenarnya untuk masalah ini. Rasanya kita cukup tahu bagaimana korporat-korporat itu mengemas acara sedemikian rupa agar nampak seolah-olah mendukung kegiatan teman-teman, padahal ya tidak jauh-jauh dari soal untung-rugi dan demi kepentingan-kepentingan profit beberapa kantong pribadi mereka saja, Mas!

Ya intinya sebagai alarm kewaspadaan aja sih, Mas. Tapi arek-arek BRD gak se-kaku itu juga, yang jelas batas kompromi tiap orang pastilah berbeda-beda. Selama dalam sebuah acara tersebut tidak ada pihak yang dirugikan atau ditunggangi, sebenarnya bagi BRD bukan jadi masalah. Jadi, untuk di BRD sendiri saat ini ya lebih selektif, hati-hati, dan lebih mengulik informasi sebanyak-banyaknya aja ketika mendapat tawaran dari sebuah acara yang disponsori oleh perusahaan/korporat tertentu.

N: Dari cerita Mas Boliph tadi ketika di warung, kok saya jadi ikutan sangsi ya Mas, maksud saya berdasar kejadian Mas Boliph yang over teler ketika bermain bersama RJ power di Malang kemarin sampai-sampai dia tidak bisa melanjutkan pentas, apakah hal-hal konyol seperti itu pernah terjadi juga ketika Mas Boliph bermain bersama BRD?
I: Hahaha. Agak beda, Mas! Memang sih dosis mabuk si Boliph entah itu ketika bermain dengan RJ Power atau ketika dia bermain dengan BRD sama-sama tingginya, tapi pas di BRD sebenarnya semakin dia mabuk semakin kena feel permainan biolanya. Justru kalau Boliph tidak mabuk dia gak bisa bermain biola. Hahaha...

N: Terus nganu, Mas. Sampean sebagai orang di luar personel BRD namun punya kedekatan personal yang sangat kuat, seperti apa harapan sampean untuk sepak terjang BRD ke depan?
I: Ya semoga arek-arek tetep konsisten wae, Mas. Jangan mudah terbuai pujian. Oh iya, iku bener jarene Edre sing masalah review-review berlebihan dari beberapa media luar. Semoga arek-arek BRD tetep fokus wae lah!

N: Oke Mas Irawan, gak terasa wis adzan subuh wae yo ternyata, kelihatannya sampean ya sudah ngantuk dan capek banget. Pertanyaan terakhir, boleh dijawab boleh nggak iki, Mas. Kalau boleh tahu, di antara personel BRD, siapa sih Mas yang paling mesum dan doyan nge sexs?
I: BOLIPH Mas! Di antara semua personel BRD yang kelakukannya paling ‘binatang’ ya Boliph! Tapi terlepas dari hal-hal kebinatangannya itu, sebenarnya di antara semua personel BRD, justru Boliph lah yang paling jenius dari segi skill & musikalitas. Dia itu seorang multi-instrumentalist, Mas. Pegang alat musik apa aja dia bisa. Lha, sesi rekaman kemarin aja, semisal gak usah onok personel liyo, cukup Boliph wae yo iso rampung lho, Mas. Hahaha...

Demikian hasil rekapitulasi bincang-bincang blak-blakan seputar band Black Rawk Dog yang saya rangkum berdasarkan jawaban dari 3 narasumber, yaitu: Edrea, Boliph, dan Irawan. Sebelum naik publish, transkrip wawancara ini sudah melalui tahap dan proses editing, kesepakatan, dan persetujuan dari ketiga narasumber tersebut.




Silakan bagi yang ingin berkomunikasi dengan BLACK RAWK DOG:

Ph/Text/Wa: +62 812 3195 6396 (Edrea)
E-mail: bois.gun@gmail.com

Instagram: @blackrawk.dog
Twitter: @blackrawkdog
Facebook: Black Rawk Dog



Wawancara oleh Neoan Perdana Timor (Kontributor Benbenan.com)


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.