[REVIEW] ALLIGATOR — Penerus Bangsat Bangsa EP (2017)

Oleh: Valentino Agasta


Introduksi:
Berikut ini merupakan sebuah ulasan tentang komposisi-komposisi yang terkandung dalam album mini perdana milik ALLIGATOR bertajuk “Penerus Bangsat Bangsa”. ALLIGATOR sendiri ialah unit thrash metal dari kota Ponorogo-Jatim, terbentuk sejak tahun 2012 dengan berawakan 4 remaja rupawan: Dhano (Vocal/Guitars), Ridwan (Guitars), Diptya (Bass), dan Aldira (Drum). EP yang baru saja diluncurkan pada bulan Juli 2017 lalu tersebut berisikan 4 lagu, dengan 3 materi direkam di Studio Senopati Malang, sedangkan sisanya direkam di sebuah studio rekaman di kota Ngawi.
Besar harapan lewat tulisan ini, teman-teman pembaca sekalian dapat memperoleh informasi dan gambaran umum mengenai EP “Penerus Bangsat Bangsa”, sehingga dapat merangsang diri untuk turut serta mendukung proses kerja kreatif mereka. Kalau bentuk-bentuk dukungan paling sederhana seperti misalnya membeli CD, merchandises, dan menonton setiap gig-gig mereka tidak dimulai dari kita yang notabene sama-sama bermukim di kota Ponorogo, terus mau siapa lagi? Meskipun masih belum bisa menghidupi mereka secara personal, ya setidaknya bisa membuat mereka berumur panjang sabagai sebuah band untuk terus memproduksi karya. Kudos ALLIGATOR! (-red).



Review:
Salam sejahtera untuk para metalhead di mana saja kalian berada! Sebelumnya, saya mengucapkan selamat kepada ALLIGATOR dan tim, yang baru saja merampungkan album mini perdana sekaligus sukses menggelar pesta perilisannya bersamaan dengan helatan gig "Dangerous Small City" pada bulan Juli 2017 kemarin.
Sebenarnya bukan faq saya untuk istilahnya mengulas sebuah karya, apalagi mengomentari sebuah karya band yang di dalamnya dihuni oleh manusia-manusia bertalenta seperti ALLIGATOR ini. Namun setelah dipaksa oleh Mas Neoan, saya akan sedikit mencobanya. Oleh karena itu, mohon dikoreksi apabila terdapat kekeliruan dalam hal penulisan. Di sini saya tidak akan banyak berkomentar soal teknik dan bangunan konsep materinya, karena hal tersebut benar-benar di luar kapabilitas saya.
Fuck ALLIGATOR!!! Hari ini, di mana scene thrash metal di Indonesia (khususnya di Regional Madiun) tidak se-masif perkembangan scene death metal di kota-kota besar di Indonesia, mereka dengan sangat beraninya menelurkan karya-karyanya dalam sebuah EP bertajuk "Penerus Bangsat Bangsa".
Track 1: Reuni di Neraka
Waktu pertama kali saya memutar cd-nya, nuansa oldschool thrash metal langsung menyeruak di awal-awal lagu. Seketika saya teringat dengan "Bonded by Blood"-nya Exodus, di mana riff-riff berat menghantam dari segala lini. Hal ini patut diacungi jempol, mengingat rata-rata personel ALLIGATOR yang masih berusia kepala dua namun mereka mampu memasukkan banyak nuansa-nuansa oldschool pada track pembuka mereka, "Reuni di Neraka".
Track 2: Stadium 666
Lebih menohok lagi ketika memasuki track kedua dengan judul yang cukup sadis yaitu "Stadium 666". Sedikit agak berbeda dengan track pertama, di mana nuansa Slayer sangat kental pada lagu ini. Dengan lirik-lirik yang tajam ditambah lengkingan suara vokal bak Tom Araya pada penghujung lagu, benar-benar membuat nuansa lagu ini semakin gelap dan menegangkan!
Track 3: Imunisasi Thrash Sejak Dini
Lagu berikutnya yakni "Imunisasi Thrash Sejak Dini". Inilah lagu yang mungkin secara chemistry menurut saya paling cocok untuk soundtrack kehidupan saya, entah karena usia kita yang masih muda dan sama-sama menggilai banyak karya-karya musik metal 80-an? Ketika mendengarkan track ini seolah kita dibawa ke sebuah alam dan dunia yang berbeda. Pengaruh young thrash metal' sangat terasa di track ini, seperti penggabungan antara unsur crossover dan thrash metal, sekelebat mirip-mirip lah dengan Lost Society (band thrash metal asal Finlandia -red), dan jujur saja hal ini membuat keunikan tersendiri bagi ALLIGATOR. Cukup sulit kan membayangkan ketika elemen oldschool thrash metal dan new wave of thrash metal berpadu menjadi satu? ALLIGATOR lah yang sanggup menjawabnya!
Track 4: Penerus Bangsat Bangsa
Dan terakhir, "Penerus Bangsat Bangsa" judul lagu yang juga dijadikan sebagai titel debut EP mereka. Single ini pada dasarnya sudah ada sejak tahun 2014, yang kebetulan saya pun turut nimbrung dalam proses rekamannya yang terlaksana di kota Ngawi 3 tahun yang lalu itu. Perlu teman-teman semua ketahui, bahwa lagu ini direkam ketika mereka masih bersama vokalis lama mereka yaitu Berly Nusantara, dan saat ini dia justru memilih banting setir sebagai frontman bagi band grunge baru, ROSTERVELT. Berbicara tentang lagu ini, sepertinya sangat cocok untuk menggambarkan keadaan para elit politik di Indonesia saat ini, di mana orang-orang yang semestinya menjadi wakil yang baik bagi rakyatnya, malah justru memberikan contoh yang tak lebih baik dari kelakuan hewan sekalipun! Kerakusan dan keserakahan, mereka perlihatkan dengan telanjangnya di muka khalayak. Penggalan lirik "Penerus Bangsat Bangsa Jangan Buat Kami Idiot!" sangat pas untuk menggambarkan fenomena-fenomena tersebut.
Bagai istilah tak ada gading yang tak retak, maka di akhir review ini saya akan mencoba sedikit memberikan kritik. Jujur kekurangan dari mini album ini ialah terletak pada cover artwork-nya. Walaupun ini cuma masalah selera, namun menurut saya, artwork tersebut sama sekali tidak menggambarkan kesan bajingan thrash metal-nya itu sendiri! Terasa aneh bagi saya ketika artwork yang bertema anime itu menjadi sebuah cover album thrash metal. Dan sepertinya akan lebih badass jika artwork album “Penerus Bangsat Bangsa” ini (misal) dikerjakan oleh Arga Kurnia (vokalis band Set a Thrash -red), karena sejauh yang saya ikuti portofolionya, dia termasuk orang yang cukup ahli dalam bidang pembuatan artwork band-band yang bernafaskan thrash metal, sehingga nuansa oldschool-nya pasti akan lebih terasa. (no offense bagi si pembuat artwork, harap bijak dan santai saja dalam membaca ulasan khusus pada paragraf ini —red)
Yang kedua ialah pembagian porsi lead gitar pada setiap lagu. Entah mengapa sangat minim sekali dan yang saya tangkap cenderung terlalu didominasi oleh kocokan gitar si Dhano. Alangkah lebih keren-nya apabila dua gitaris handal di ALLIGATOR, yakni Dhano dan Ridwan mampu mengkombinasikan dan mengoptimalkan kemampuannya pada tiap lagu, agar lebih berisi dan semakin sadis. Setidaknya biar agak mirip-lah sama Exodus atau Megadeth, di mana saling serang dan hantam lead gitar tersaji di hampir seluruh album-album mereka.
Yap, mungkin cukup sampai di sini saja review saya terkait debut mini album “Penerus Bangsat Bangsa” milik ALLIGATOR ini. Sebuah ulasan dari sudut pandang / kacamata penikmat, pendengar, sekaligus penggemar. Di sini, saya berusaha untuk membatasi diri saya dengan tidak mengomentari sisi-sisi teknis mereka, termasuk sound dan lain-lain, karena saya menyadari saya sangat awam untuk hal-hal tersebut.
Overall, album ini sangat cocok buat pecinta musik heavy / thrash metal era 80-an. Saya berani menjamin, ketika mendengar album ini secara keseluruhan, seolah kita akan dibawa masuk ke dalam ruang dan waktu sebuah romantisme era kejayaan musik heavy metal pada saat itu. Sehingga membuat mini album ini terkesan tidak monoton dari awal hingga akhir. Dan, kabupaten Ponorogo sudah sepatutnya berbangga karena telah memiliki 4 putra daerah bajingan ini!
Akhir kata, sekali lagi saya mengucapkan mohon maaf kepada para khalayak pembaca apabila ada tulisan saya yang dirasa kurang tepat dan kurang berkenan.









Sekian dan terima kasih.
(Valentino Agasta) 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.