[REVIEW] Lahir dari Kota Kedua, LOKAPALA Menjadi Bukti Bahwa Para Pegiat Hair Metal Masih Menyala!

Jujur saja, kalau bukan dari hasil mengaji sekaligus sebagai bentuk pengamalan buku “Nice Boys Don’t Write Rock n Roll” karya Nuran Wibisono, saya tidak mungkin terpancing untuk menulis tentang band ini. Sebuah band yang dimotori oleh sahabat-sahabat saya sendiri, yang setiap akhir pekannya hampir dipastikan saya bertemu dan mabuk-mabukan bersama mereka. Ironisnya, kenapa baru sekarang saya kepikiran dan merasa penting untuk istilahnya memperkenalkan band ini kepada khalayak yang lebih luas melalui webzine BENBENAN.COM.

Maka mulai detik ini saya anjurkan kepada teman-teman sekalian yang budiman, bahwa sepertinya kita tak perlu lagi membayangkan jauh-jauh ke Sunset Strip sana, atau setidaknya pada hari ini kita sudah mempunyai idola dan jagoan baru dalam kancah musik hair metal di Indonesia, yang telah sejak lama predikat ‘band pujaan’ tersebut sudah terdaulat kepada GRIBS dari ibu kota dan SANGKAKALA dari kota gudeg, Jogja.

LOKAPALA, kelompok musik glam metal asal kota Ponorogo, yang semenjak terbentuk sekitaran tahun 2013 lalu, mereka acapkali membongkar-pasang dan merombak para personelnya, dan pada akhirnya setelah satu tahun belakangan ini saya rasa mereka telah menemukan formasi paling idealnya: Anggi Widianarko pada gitar (bekas drumer band punk “Tragedi 98” & bekas drumer band thrash metal ‘berkedok preman’ asal Jogjakarta, “Unveils”), Amirul Romadhon pada vokal (juga aktif di band “Howlerness” & “Lusa!”), Alda Asfrindo pada bass (juga menjabat sebagai pengocok bass di band punk rock “Anak Kemarin Sore”), Arga Dwi pada gitar (additonal gitar di band pop-punk “Fun Fun For Me”), dan Adhistya Yanuanda pada drum (mantan penabuh drum bagi band oi!/punk “Salah Sambung" yang sekarang juga aktif di band stoner doom "Vanagandr").

Anggi Widianarko –gitaris sekaligus former LOKAPALA, sering berkelakar dengan pongahnya kepada saya dalam beberapa kesempatan, “Latar belakang musik antar personel menjadi nomer dua puluh lima bagi LOKAPALA, untuk memainkan musik hair metal anda cukup menjadi binatang dan menjadi bajingan!”

Terlalu berlebihan dan terkesan terburu-buru juga sepertinya apabila saya menyandingkan nama mereka dengan nama-nama prestis terdahulu seperti GRIBS ataupun SANGKAKALA, yang pamor dan reputasinya sejauh ini sudah tidak perlu teman-teman pertanyakan lagi, mengingat LOKAPALA sendiri di usianya yang hampir menginjak setengah dasawarsa, sampai hari ini mereka belum juga memiliki rilisan album, padahal sejauh yang saya ketahui, mereka sudah mempunyai cukup banyak materi. Namun, terlepas dari itu, jika mengacu pada sebuah pernyataan yang dilontarkan Soleh Solihun, kalau sebuah ulasan musik itu ada baiknya musti subyektif, maka tak ada salahnya juga –minimal dari segi musikalitas, menurut saya LOKAPALA layak disejajarkan dengan nama dua band tersebut di atas. Masih belum percaya juga? Ayo coba ajak LOKAPALA bermain di acara kalian!


Selain ‘hidayah’ dari buku karya Mas Nuran tadi, tulisan ini juga dilatarbelakangi oleh pengalaman perdana saya untuk terlibat dalam tur mereka belum lama lalu ke kota tempe kripik, Trenggalek.
Selanjutnya, sedikit akan saya riwayatkan bagaimana serunya tur bersama para berandalan sialan ini. Jadi, tujuan tulisan ini sebenarnya lebih ke menceritakan kembali apa yang saya rasakan ketika melihat penampilan mereka kemarin, yang saya anggap penampilan terbaik mereka dari belasan pertunjukan mereka yang telah saya ikuti selama ini.

Naik pentas pada sekitar pukul 5 sore, lumayan molor dari jadwal yang ditetapkan panitia penyelenggara sebelumnya, membuat saya pribadi (mohon maaf) agak sedikit kecewa, karena hal tersebut membuat LOKAPALA tidak terlalu leluasa untuk membawakan semua repertoar-nya.

Membuka penampilan dengan 2 lagu tanpa jeda bertema cinta satire milik Motley Crue, “Too Young to Fall in Love” dan Dokken, “Unchain the Night”, membuat siapa saja termasuk saya, seketika sesak napas dan tercengang akibat belum terlalu siap menerima demonstrasi mereka. Mungkin bisa dibilang, para penonton yang telah memadati bibir panggung pada saaat itu merasakan sama dengan apa yang saya pikirkan. Bagaimana tidak, saya yang seorang awam dengan musik hair metal ini apabila dihadapkan pada band Motley Crue dan Dokken, hanya sanggup ‘berbicara’ tak lebih dari “Home Sweet Home” atau “Alone Again”, mereka dengan ‘takaburnya’ justru membawakan nomor-nomor ‘nir populer’ tersebut. Alhasil, LOKAPALA harus menerima konsekuensi ketika melihat crowd kebingungan dan seolah-olah hanya bengong saat menyaksikan penampilan mukadimah mereka.

Namun, sepertinya mereka cukup peka menghadapi situasi tersebut. Terbukti di repertoar berikutnya, mereka mencoba menaikkan tensi dan adrenalin penonton justru dengan (hanya) membawakan lagu balada lembut milik Skid Row, “18 and Life”. Tak perlu bercerita banyak mengenai suasana ‘cair’ pada saat mereka membawakan lagu tersebut. Pecah! Berantakan! Sebuah tragedi sing-along berlangsung selama kurang lebih 4 menit di setiap sudut pertunjukan. "18 and life You got it, 18 and life you know. Your crime is time and it's, 18 and life to go!"

Tidak disia-siakan begitu saja, lagu selanjutnya sepertinya dijadikan momen LOKAPALA untuk
memamerkan karya! Yak benar, mereka mencoba memainkan salah satu single terbaru mereka, yang
berjudul “The Rising Sun”. Telinga saya rasa-rasanya mau meledak di sepanjang lagu ketika banyak
part-part gitar Anggi Widianarko dan Arga Dwi meraung-raung dengan bengis-nya pada bagian
interlude. Ditambah vokal Amirul yang sangat perkasa melengking bak kuda kejepit, lalu sesekali
menggeram dan mengaum bagai lembing bersurai yang melesat ke langit cerah. Bangsat! Terlalu
hiperbola ulasan ini sepertinya. Hahaha...

Dengan alasan keterbatasan waktu, LOKAPALA terpaksa memangkas set-lists mereka. Saya pribadi
sangat menyayangkan kondisi tersebut, mengingat mereka harus segera menutup penampilan dengan
kembali membawakan sebuah lagu kover milik Kiss, “Rock And Roll All Night”, sebelum
mempertontonkan lebih banyak lagi lagu-lagu karya mereka sendiri.


Foto oleh: Arga Kurnia


Foto oleh: Arga Kurnia

Foto oleh: Arga Kurnia

Foto oleh: Arga Kurnia

Foto oleh: Arga Kurnia

Foto oleh: Arga Kurnia

Foto oleh: Arga Kurnia
                   
[Benbenan/Neoan]







Benbenan.com terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin bergabung dan berkontribusi melalui tulisan, foto, video, dsb. Langsung kirim ke benbenandotcon@gmail.com
nantinya setiap karya yang lolos editing akan kami terbitkan di laman benbenan.com
terimakasih, selamat berkarya!


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.