[REVIEW] Menalar Ragam Kenakalan Mahasiswa Perantauan ala Umar Haen



Banyak yang bilang kalau, “Jogja kini sudah tak seramah Jogja sepuluh tahun yang lalu”. Sebuah ekpresi-kini yang bisa jadi diamini oleh sebagian besar orang bilamana kita singgungkan Jogja dengan persoalan sosial, ekonomi, atau mungkin juga budaya. Akan tetapi hal tersebut belum sepenuhnya benar apabila kita mencoba menghubungkan pernyataan di atas dalam konteks ruang lingkup pendidikan di DIY. Setidaknya jika mengacu pada data statistik persebaran mahasiswa yang dilansir Disdipora Yogyakarta pada tahun 2017 saja, masih menempatkan Provinsi DIY di posisi teratas secara nasional dengan jumlah mahasiswa daerah sebanyak 27.842, lalu disusul Provinsi Jateng di urutan kedua dengan jumlah mahasiswa daerah sebanyak 24.149, yang tak bisa dipungkiri jumlah tersebut akan terus meningkat setiap tahunnya.

A post shared by U M A R H A E N (@umar_haen) on


Kondisi ini seakan mengindikasi bahwa terlepas dari faktor ekonomi sebagaimana telah banyak pewarta atau peneliti yang merekap biaya kuliah (termasuk biaya hidup) di Jogja yang dari tahun ke tahun sudah terlanjur kelewat mahal, bahkan kini nominalnya telah jauh melampaui standar upah minimum provinsi, Jogja nyatanya masih memiliki daya tarik tersendiri bagi para ribuan calon mahasiswa dari daerah untuk terus berlabuh di  sana setiap tahunnya. Termasuk salah satunya adalah Umaru Wicaksono, pemuda asal Kabupaten Temanggung yang sekitar 6 tahun lalu memutuskan untuk melanjutkan studinya di salah satu kampus terkemuka di kota pelajar, Jogja.

Tidak membutuhkan waktu lama bagi kami untuk dapat menggolongkan seorang mahasiswa perantau seperti Umar, begitu ia kerap disapa, ini sebagai sosok mahasiswa yang jauh dari cap mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang –ed) atau mahasiswa kura-kura (kuliah-rapat –ed) sekalipun. Umar merupakan representasi kecil figur mahasiswa yang tidak melulu berorientasi pada pencapaian suatu indeks prestasi semata, karena kami cukup tahu persis, di sela-sela kegiatan dan statusnya sebagai mahasiswa ilmu sosial & ilmu politik sejauh ini, ia justru lebih banyak terlibat di berbagai aktifitas di luar kampus yang bersinggungan dengan lingkup berkesenian.  Mulai dari sebagai kontributor tulisan untuk Warning Magazine, nge-band, hingga yang paling mutakhir ia tercatat sebagai solois dengan entitas panggung “Umar Haen”, yang kebetulan pada tanggal 14 Februari 2018 kemarin -bertepatan dengan perayaan hari kasih sayang, ia baru saja melepas single terbarunya dengan judul “Di Jogja Kita Belajar” melalui kanal Youtube dan beberapa gerai musik digital seperti iTunes dan Spotify.


A post shared by U M A R H A E N (@umar_haen) on


Cukup menarik bagi kami untuk sedikit mengulas tentang single terbarunya ini, mengingat pada awal bulan lalu, Umar Haen berkesempatan berkunjung sekaligus mementas di kota Ponorogo dalam event “Pustaka Pinggiran, Banjir Buku di Camp Literasi”. Sebuah acara yang menjadi momen perdana perjumpaan kami dengannya. Maka, anggaplah tulisan ini sebagai momen kedua untuk kembali melanjutkan ‘obrolan’ yang pada waktu itu kami rasa masih belum cukup.

College is the best time of your life. When else are your parents going to spend several thousand dollars a year just for you to go to a strange town and get drunk every night? -David Wood

Kami rasa perlu untuk turut menjejalkan salah satu nukilan satire di atas, karena sepertinya terdapat irisan yang cukup besar apabila kita mencoba membandingkannya dengan satu bait pembuka pada single “Di Jogja Kita Belajar” karya terbaru Umar Haen ini:

Mitos tentang Jogja
Hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa
Rantai kekang tak lagi berwenang
Kuasa penuh di tangan si bocah yang kini beranjak dewasa

Selanjutnya dalam konteks kali ini alangkah baiknya kita tidak hanya berbicara dalam skala kota Jogja atau kota-kota metropolitan lain dan lantas menjadikannya sebagai tolok ukur, karena menurut kami ungkapan Umar tersebut di atas cukup relevan untuk dipukul-rata bahkan pada kota-kota yang statusnya second city. Mengingat seiring dengan kemajuan teknologi, para orang tua kini nyatanya telah semakin paham mengenal situasi maupun ‘sisi lain’ sebuah kota yang akan menjadi destinasi studi lanjutan para buah hatinya.


A post shared by U M A R H A E N (@umar_haen) on


Berbeda dengan dulu, yang ‘ragam godaan’ belum cenderung berbanding linier dengan perkembangan zaman, budaya konservatif sekaligus gaya ortodoks yang melekat pada mayoritas orang tua para mahasiswa generasi X pada waktu itu, seolah membuat semuanya menjadi ‘jinak’. Tidak banyak kecemasan yang menyelimuti para orang tua di setiap penghujung malam, selain tak lebih dari memikirkan bagaimana menutup tagihan iuran wajib kampus anaknya untuk semester depan.

Sehingga hari ini, sekaligus mewakili banyak lelaku para mahasiswa rantau generasi millenial, Si Umar lewat karya “Di Jogja Kita Belajar” perlahan membongkar seluk-beluk ‘tindakan menyimpang’ yang di sini secara naratif ia menyebutnya dengan kata kunci NAKAL, sekaligus mungkin ia sembari menepuk pundak sang Bapak untuk sekedar berbisik menyampaikan bahwa yang mereka khawatirkan terhadap anaknya selama ini memang benar-benar nyata dan jelas terjadi.


Dari berbagai varian ‘tindakan menyimpang’ (baca: kenakalan) dan dari berbagai latar belakang ekonomi atau latar belakang lingkup pergaulan mahasiswa, Umar hanya mengerucutkanya menjadi 3 bentuk kenakalan saja, yang secara gamblang ia menuliskannya demikian:

Nakal alkohol, patungan berkawan atas nama jalin keakraban.
Nakal seksual di remang kamar kost-an, desah disamarkan suara dendang.
Nakal narkoba, berkenalan di skena atas nama membuat karya.
Bisa jadi tiga bentuk kenakalan itulah yang paling terekam dalam benak Umar selama ia menghadapi pergaulannya di Jogja selama ini. Namun dari tiga bentuk kenakalan tersebut, secara porsi, nakal mabuk-mabukanlah yang paling ditekankan oleh Umar dan menurut kami paling dominan di sini, seakan dua bentuk kenakalan yang lain hanya sebagai ‘cameo’ dalam lagu berdurasi 4 menit 59 detik ini. Itu dibuktikannya dengan terus merepetisi penggalan lirik:

Tipis tipis air menipis
Tipis tipis air menipis
Jangan kena tanggung malam belum habis

Belum puas sampai di situ, secara persuasif Umar masih saja menambahkannya, bahkan dengan dialek jawa khas lucu-lucu nakalnya:

Sewu sewu ayo dadi banyu
Sewu-sewu ayo dadi banyu
Ojo ragu-ragu daripada entuk ciu

Tentang nakal seksual, kami sempat terkecoh ketika pertama kali mendengarkan lagu ini. Sedikit kembali berbicara tentang Jogja, yang semua sudah mafhum bahwa Jogja mempunyai tempat prostitusi yang notabene salah satu yang terbesar di Indonesia. Maka, ketika Umar mulai memekik “Nakal seksual...” kami pun langsung menduga-duga “Ah, pasti njajan di Sarkem, nih!”. Oh dan ternyata kami salah besar! Karena nakal seksual ala Umar adalah cukup di kamar kost, konsensual, dan tentunya lebih hemat biaya.

Terakhir, tentang nakal narkoba. Terlepas dari mahasiswa yang bersangkutan lingkup pergaulannya seperti apa, kami yakin lirik sederhana Umar dalam lagu ini bukan sekedar bualan dan omong kosong belaka. Mari kita menilik data penelitian yang disuguhkan oleh BNN dan PKK Universitas Indonesia pada tahun 2016 yang menunjukkan bahwa angka prevalensi tertinggi pernah pakai narkoba di Indonesia untuk kelompok pelajar dan mahasiswa adalah Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan catatan sebesar 6.6%, sekaligus ‘mengalahkan’ torehan Provinsi sekelas DKI Jakarta.

Sampai di sini, bagaimana? Teruntuk kalian para mahasiswa rantau, seumpama kami tantang untuk memutar lagu ini kencang-kencang di ruang keluarga sewaktu kalian pulang kampung, kira-kira berani tidak? Ya, setel aja lah coba, toh ya tidak ada salahnya juga!. Selain kami berani menjamin orang tua kalian tidak akan sekonyong-konyong mati berdiri gara-gara mendengar liriknya, musik yang dibawakan Umar ini termasuk ramah didengar bagi kuping tua, termasuk untuk bapak dan ibu kalian di rumah.


Berdasarkan peta solois di Indonesia, konsep musik yang dibawakan Umar Haen ini tergolong unik dan tampak berbeda dari solois kebanyakan. Gitar bolong, kajon DIY yang diberi nama Arok, dan tamborin dimainkannya sekali waktu secara bersamaan. Tidak asing sebenarnya untuk teman-teman yang telah sering mengikuti program-prorgram musik menarik di kanal Youtube seperti KEXP, KCRW, NPR Music, atau Audio Tree Tv, karena konsep musik yang diusung Umar Haen sekilas mirip-mirip dengan konsep yang dibawakan oleh Shakey Graves.

Akhir kata, sekian ulasan ini ditulis. Kami tunggu agenda tur antar Kabupaten-nya, Mas Umar!. Mari melanjutkan obrolan kita untuk yang kali ketiga!.

Ditulis oleh: Neoan Perdana Timoer
Sumber gambar: Instagram @umar_haen

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.