Eargasme Sang Penggemar Trio Rock Amatiran "Howlerness"


Melabeli diri sebagai Trio Rock Amatir menjadikan Howlerness bertingkah bebas mengekspresikan karya mereka. Namun sayang, penggemar terlalu lama harus menunggu buah-tangan mereka absah dinikmati di pasaran.

Namun akhirnya penantian berakhir, secara sadar dengan kapasitas cairan otak yang sedang penuh-penuhnya band yang digawangi Anggient, Amir, dan Vini ini akhirnya merilis mini album atau EP.

Dan berikut curahan hati (semoga tidak terlalu menye-menye) seorang yang mengaku penggemar dari Howlerness, Ivan Faul, seorang mahasiswa tingkat akhir yang sampai "kering" saking terlalu lamanya menunggu karya band pujannya. Sekarang sepertinya dahaganya telah terobati.


Penantian Satu Windu “Howlerness” untuk Album Mini Perdana

Banyak hal yang terjadi saat kita menjalani hidup, sama halnya saat beberapa orang memutuskan untuk membangun sebuah band.

8 tahun yang lalu, HOWLERNESS tercetus di salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa Kampus Univ. Muhammadiyah Ponorogo yaitu Campuss Music Progress (CAMP), masih dengan nama awal F.A.H.G (Fully Amateur Howling Gangster).

F.A.H.G yang pada saat itu terdiri dari 4 personel yakni Anggient pada Vokal & Gitar, Amirul pada Drum, Waga pada Bass, dan Eko pada Gitar, yang sialnya saya kurang begitu ingat sampai berapa lama formasi awal ini bertahan, mungkin 2 atau 3 tahun sejak awal FA.H.G terbentuk, namun yang jelas mereka berempat masih sempat merilis 4 single secara terpisah di saat mereka masih aktif sebagai anggota CAMP, antara lain: Lay, Elegi Desember, Modernisasi Romantika, dan Hajar Hantam Sikat.

5 tahun berlalu, sebuah perubahan besar terjadi pada band ini. Bassist dan gitaris mereka (Waga dan Eko) memilih untuk hengkang dari band, yang pada akhirnya Anggient dan Amir sebagai personel tersisa dipaksa memilih untuk mencari pemain bass baru, sekaligus mengganti nama band mereka menjadi HOWLERNESS.

Setelah hampir 1 tahun vakum, (entah vakum atau nggak ada panggung?) terpilihlah Vini Oktavianto, yang notabene adalah rekan kuliah Anggient untuk menjadi bassist mereka, sekaligus memantapkan formasi mereka yang semula kuartet menjadi trio.

Waktu pun terus berjalan dan saya rasa banyak hal yang berubah pada band ini. Mulai dari skill mereka yang kian berkembang, karakter musik mereka yang semakin kuat, hingga pengalaman mereka untuk mengenal karakter antar personel satu sama lain yang sudah tak dapat diragukan lagi, yang kesemuanya itu dapat dibuktikan dari semakin trengginasnya aksi mereka di setiap panggung.

Akhirnya pada bulan April tanggal 21 esok, penantian saya sebagai salah satu fans mereka terpenuhi, karena setelah tertunda sekian lama, konon kabarnya mereka akan merilis EP perdananya.

Bukan apa-apa, saya rasa, saya adalah salah satu orang yang sedianya berbangga atas akan dirilisnya EP tersebut.

Karena setelah 1 tahun lebih ini mereka merencanakan perilisan album, baru pada bulan April ini penantian saya bisa terpenuhi, mungkin karena banyak hal yang menghambat mereka untuk menyelesaikan album ini. Mulai dari Anggient yang mempersiapkan pernikahan tahun lalu, Vini yang dipecat oleh bosnya karena ingin menjadi seorang wirausaha dan Amir yang sibuk untuk mengembangkan sebuah perpustakaan jalanan untuk mengampanyekan kegiatan membaca bersama teman-teman Pustaka Pinggiran di Ponorogo.

Jadi, dengan dirilisnya debut EP mereka tanggal 21 April esok, saya rasa mereka akan menjadi harapan baru bagi band-band yang ada di kota kedua seperti Ponorogo. Di mana banyak musisi aktif bermain musik tapi lebih memilih untuk tidak berkarya, merekam lagu yang mereka ciptakan, ataupun berkeinginan kuat untuk membuat album.

Ya lha wong bikin lagu saja pada nggak mau, gimana mau rilis album? Hehehe.

Kembali lagi ke HOWLERNESS, saya rasa 499 kata tadi sudah mewakili sedikit cerita mengenai kiprah band ini selama sewindu belakangan. Jadi kenapa kita harus menanti rilisnya EP perdana HOWLERNESS? Karena mereka terlalu luar biasa bagi saya!

Cover EP Album Howlerness - Nasty Matter

Coba bayangkan Trio Rock Amatiran (begitu mereka menyebutnya) yang dilatarbelakangi oleh individu-individu berbeda selera, mulai dari Anggient yang cenderung mengarah pada Garage Rock, ditambah Amir yang lebih terpengaruh Punk Rock, dan kemudian dijejali Vini pembetot bass yang banyak terpengaruh Classic Rock, kemudian mereka perlahan tumbuh bagai pohon yang diberi nutrisi oleh mahakarya Led Zeppelin, ACDC, The Doors, The Beatles hingga Pink Floyd!

Ah, saya rasa membayangkan hal itu saja sudah cukup untuk membuat orgasme setiap orang yang mengenal tiga bangsat karib ini! jadi buat apa menunggu lagi? Sampai jumpa di pesta perilisan album HOWLERNESS!



Ditulis oleh: Ivan Faul Fathoni








Benbenan.com terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin bergabung dan berkontribusi melalui tulisan, foto, video, dsb. Langsung kirim ke benbenandotcom@gmail.com
nantinya setiap karya yang lolos editing akan kami terbitkan di laman benbenan.com

Terimakasih, selamat berkarya!



1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.