Wawancara Bersama Solois Asal Maluku "SOMBANUSA"



Pada tanggal 26 bulan Maret kemarin saya akhirnya memiliki kesempatan untuk kembali berkunjung ke kota gudeg Jogjakarta, setelah terakhir kali kesana mungkin sekitar 5 tahun yang lalu. Dengan modal biaya gratis berangkat ke Jogja dari sebuah organisasi tempat saya mengabdi selama ini, saya rasa akan sangat sia-sia jika akhirnya hanya membawa
pulang oleh-oleh berupa makanan, foto, atau apapun itu yang mungkin hanya bisa didapat di Jogja. Tak mau sia-sia, malam itu saya sudah merencakan sebuah pertemuan dengan Muhammad Asy’ari atau sering dipanggil dengan nama panggung SOMBANUSA. Sebuah nama yang masih asing mungkin di kancah musik Indonesia. Tapi tak apa, saya rasa hanya dengan mendengar karyanya satu dua kali saja, perlahan akan menjadi sebuah ikatan yang membekas di batin dan pikiran para pendengarnya.

Maghrib pun tiba dan akhirnya saya sampai di Malioboro, tapi apa daya ternyata semesta berkata lain, saya menerima pesan bahwa Sombanusa yang saat itu masih di kostnya akhirnya tak bisa menemui saya di cafe tempat ia berkerja, karena kendala cuaca yang tak memberi toleransi. Alhasil, malam itu saya hanya bisa memandang tugu Jogja yang dipenuhi teman-teman saya yang sedang berswafoto, sambil merenungi kegagalan yang saya terima karena tak mampu “menyelam sambil minum ciu santosky” alias menjalankan dua agenda secara bersamaan selagi saya di Jogja, haha. Ah tapi tak apa, toh akhirnya wawancara ini bisa tetap berjalan walau hanya lewat whatsapp messenger. Jadi dari pada membaca cerita tentang kesedihan dan juga kegagalan saya selama berada di Jogja, saya rasa akan lebih baik jika saya memulai membagi hasil wawancara saya bersama Sombanusa.

I: Ivan
S: Sombanusa

I: Halo mas Ari,apa kabar?
S: Alhamdullilah Ivan, saya baik. Ivan bagaimana, sehat?

I: Alhamdullilah sehat, Sekarang lagi sibuk apa mas?
S: Lagi sibuk kerja jadi tukang bikin kopi di Kopilot Coffee, sama sekarang kalau ada waktu luang saya sibuk ke Kulon Progo untuk membantu para relawan disana

I: Tentang Sombanusa, bisa diceritakan mas apa itu Sombanusa?
S: Sombanusa itu proyek musik saya, yang saya garap dengan membawa pesan damai dan juga nasehat tentang kehidupan yang semoga itu bisa berguna bagi orang yang mendengarkan, karena tujuan saya bermusik agar karya saya bisa berguna bagi orang lain

I: Berarti bisa dibilang latar belakang terbentuknya Sombanusa berawal dari kepedulian mas Ari
untuk membawa pesan kebaikan bagi pendengar karya yang mas Ari ciptakan?
S: Iya bisa dibilang begitu, karena lewat apa lagi kita bisa merubah generasi kalau bukan
lewat seni yang salah satunya adalah seni musik. Karena bagi saya, bermusik adalah anugrah yang Tuhan berikan pada saya. Oleh karena itu, selama saya masih bisa bermusik, semoga saya terus bisa membawa hal-hal baik bagi orang-orang yang mendegar karya yang saya ciptakan


I: Lalu sejak kapan mas proyek musik ini mulai berjalan?
S: Kalau proyek Sombanusa itu belum berjalan satu tahun. Tapi kalau bermusiknya udah lama semenjak saya masih kecil. Dulu juga pernah nge-band waktu masih SMA, tapi cuma band biasa. 2009 juga pernah menggeluti hip-hop, pas tahun 2017 juga pernah buat band blues, tapi karena ada masalah internal akhirnya bandnya bubar juga.
Karena itulah saya akhirnya memilih bermusik sendiri, yang penting kan masih memberi kebaikan

I: Kalau boleh tahu, proyek musik ini terinspirasi oleh siapa mas?
S: Kalau Sombanusa, inspirasi utamanya dari Franky Sahilatua. Itu musisi lama yang menurut saya karyanya penuh dengan pesan damai dan nasehat bagi kehidupan.
Tapi kalau sekarang ada juga yang lain, kayak Sisir Tanah, Iksan Skuter.
Ya pokoknya bisa dibilang inspirasi saya dari musisi yang membawa pesan baik pada karyanya. Dan yang paling utama dari ayah saya sendiri

I: Berarti rata-rata juga dari musisi indie yang udah lebih dulu berkarya ya mas?
S: Kalau Franky Sahilatua itu bukan indie sih, soalnya dulu juga pernah masuk major label. Mungkin karena waktu itu lagu-lagu yang berisi kritikan masih laku di jual. Tapi pas belakangan karya-karya terakhirnya itu udah di garap sendiri, udah nggak masuk major label

I: Selanjutnya bicara tentang teater dan juga hip-hop, sampai sekarang masih jalan apa engak mas?
S: Kalau teater sampai sekarang masih lumayan aktif Van, tapi kalau hip-hop mungkin udah pensiun, jadi udah nggak pernah hip-hop lagi sekarang

I: Kalau tentang media, yang mas Ari gunakan untuk
memperkenalkan karya yang mas ari ciptakan sekarang lewat apa aja mas?
S: Kalau saya sekarang masih bingung untuk memperkenalkan karya saya lewat apa, tapi dari beberapa temen banyak yang usul untuk dibikin video buat dijadiin konten youtube. Ada juga yang usul buat direkam aja, biar bisa diupload ke soundcloud, dan sampai sekarang pun juga masih 1 video yang saya upload ke channel youtube saya, tapi kemarin ada juga sih Van yang upload 4 video ke youtube pas saya main, kalau nggak salah nama akun youtubenya watch pinapple tv. Tapi kalau sekarang belum terfikirkan mau ngenalin karya saya lewat media apa hehe

I: Seberapa berpengaruhnya buku pada lirik juga puisi yang mas Ari ciptakan? Kan mas Ari juga aktif di Perpusjal DIY?
S: Saya sebenanya nggak aktif sih di perpusjal, tapi karena itukan temen-temen juga jadi saya sering nongkrong di sana, juga sharing-sharing bareng. Jujur, saya pun juga bukan orang yang rajin membaca, jadi saya lebih nyaman waktu ngelihat kejadian langsung atau denger pas sharing ilmu sama kawan-kawan atau siapapun itu, terus saya bikin lagu/puisi. Jadi bisa dibilang lirik juga puisi saya, saya buat karena kejadian yang saya lihat dan juga yang saya dengar langsung.
Dan kalau tentang menulis, sudah lama memang suka menulis. Mungkin dari ayah, karena dulukan ayah juga penyair
I: Kalau tentang lirik berbahasa Maluku di beberapa lagu yang mas Ari buat, apa itu ekspresi dari
kerinduan mas Ari pada kampung halaman?
S: Sebenarnya itu bukan bahasa Maluku yang biasa digunakan van, itu sebenarnya kayak
mantra para leluhur. Mungkin kalau sekarang tanya ke orang Maluku mayoritas juga jarang ada yang mengerti bahasa-bahasa itu. Cuma waktu beberapa kali saya masuk ke desa pedalaman, terus saya tanya tentang syair-syair yang dulu, ternyata bah asa-bahasa itu namanya kapata. Nah kapata itu adalah nasehat para leluhur yang dibawa secara turun temurun lewat nyanyian-nyanyian. Dan syairnya itu lewat bahasa tana’ Maluku, makanya kalau sekarang tanya orang Maluku, jarang orang Maluku yangtahu. Cuma kalau mantra-mantra itu saya ucapkan bukan lagi kerinduan, tapi lebih tepatnya untuk memberi energi positif pas waktu saya nyanyi atau pas saya ingin menyampaikan sesuatu. Karena saya bisa di bilang, orang yang cinta leluhur saya, hehehe…


I: Kalau tentang solois yang baru-baru ini mulai banyak bermunculan, menurut mas Ari apakah ini sebuah trend baru di kancah musik Indonesia, dan kalau seandainya ini cuma sebuah trend, sampai kapan ini bertahan?
S: Kalau menurut saya masalah solois itu bukan trend juga sih, soalnya dari dulu juga udah banyak solois yang udah ada. Kayak Franky Sahilatua, Iwan Fals, dll. Cuma bedanya paling pada ideologi dalam bermusik aja, kan ada yang pengen bermusik buat fokus nyari duit, ada juga yang tujuannya bermusik untuk media propaganda. Kalau masalah bertahannya nanti tinggal tujuan solois itu bermusik, kalau orang yang cuma nyari ketenaran pas tenar pasti bakal naik, terus nanti pas redup juga bakal surut. Dan menurut saya munculnya solois baru, itu malah lebih bagus, karena secara nggak langsung
bakal memberi suatu warna baru di dunia musik Indonesia. Dan terus karena saya pikir solo itu lebih fleksibel juga lebih mudah buat berkarya. Tapi walaupun saya sekarang solo, juga bukan berarti kualitas dari musik saya boleh menurun, Jadi tetep harus dipertanggungjawabkan juga Van. Lagi pula saya kan juga menempatkan musik sebagai media agitasi propaganda, jadi kayak yang anti-tank bilang. biar nggak
ada orang lain yang kita amankan, biar lebih bisa jaga diri sendiri aja. Karena kan di lirik saya juga ada lirik yang agak berlawanan dengan rezim ini atau bahasa yang mungkin sedikit memberontak jadi ya biar lebih fokus buat jaga diri sendiri, sama bisa menyampaikan apa yang aku ingin sampaikan


I: Menurut mas Ari, seberapa berpengaruhkah kesenian dalam suatu
pergerakan sosial?
S: kalau tentang seberapa berpengaruhnya kesenian dalam suatu gerakan sosial, menurut
saya itu sangat penting Van. Karena mengingat sejarah kesenian itu sendiri, bahwa kesenian itu dari rakyat, jadi saat kesenian itu dikembangkan juga harus tidak boleh lepas dari isu-isu kerakyatan juga. Kayak pergerakan sosial, misalnya kayak kita membuat lagu tentang kritikan sosial, terus melihat adanya ruang-ruang hidup yang diambil saat ini, kemudian banyaknya konflik-konflik agraria saat ini, kenapa itu nggak jadi tema untuk berke senian saja? Karena kalau seni hanya untuk seni, dia hanya mengandalkan estetika, artinya kita kan udah kalah jauh sama karya Tuhan. Yang kita bisa lihat dari senilukis, mana bisa kita melukis lebih indah dari pada Tuhan? Kan nggak bisa. Sama halnya waktu kita bermusik, kita juga nggak akan bisa bermusik lebih bagus dari pada Tuhan. Karena bunyi-bunyian yang diciptakan Tuhan udah lebih indah daripada semua itu, namun tugas kita sebagai manusia ialah saling menggingatkan. Maka karena itu ketika kita berkesenian, ayo sama-sama kita saling menyampaikan hal- hal baik untuk menjalani kehidupan bersama


I: Kembali lagi ke Sombanusa, ada hal mendasar yang belum saya tanyakan mas, yaitu mengenai arti nama Sombanusa itu sendiri?
S: Kalau Sombanusa itu dari bahasa tana’ Maluku yang terdiri dari 2 kata Van. Kayak kata “somba” itu artinya menyembah atau berbakti dan “nusa” itu artinya pulau atau tanah. Jadi lebih umumnya Sombanusa itu atinya berbakti pada tanah yang kita tinggali.

I: Lalu sampai sekarang di proyek Sombanusa ini udah ada berapa single mas?
S: Kalau dihitung, yang sampai sekarang masih sering aku bawakan itu udah ada 4 single.
Yaitu ada Hikayat Nelayan, Bahagia Melawan Lupa, Akui Masa, sama Gadis dan Telaga


I: Kapan mas rencana buat rekaman lagi sama bikin album?
S: Kalau untuk rekaman dan juga bikin album, kayaknya masih butuh proses yang lumayan lama sih Van, nanti aja kalau udah niat buat digarap secara serius saya kabarkan, hehe…

I: Kalau seandainya jadi rilis album mas, kira-kira ada rencana tour apa enggak?

S: kalau untuk tour album mungkin nanti juga di lihat dulu van, berapa teman yang bisa saya dapat buat berkarya bersama-sama. Soalnya kan juga butuh 1 atau 2 orang buat belajar berbagi dan belajar bersama, hehe

I: Terakhir, pesan buat teman-teman musisi di Indonesia?
S: Pesannya, semoga lebih peduli sama nasib masyarakat yang tertindas, sebab bagi saya
kesenian itu sejatinya harus berangkat dari kepentingan rakyat.

Ivan: Oke mas, terimakasih ya untuk kesempatan wawancaranya. Semoga segera ada kesempatan mas Ari buat bermain di Ponorogo.
S: Iya sama-sama. Nanti jikalau ada kesempatan saya dengan senang hati kesana



Demikian wawancara yang saya lakukan dengan Sombanusa lewat whatsapp messenger. Semua foto diambil dari akun instagram Sombanusa.
Sebelum diunggah, transkrip wawancara ini sudah melalui proses editing dan juga sudah mendapat persetujuan dari Sombanusa maupun dari tim kurator Benbenan[dot]com.

Untuk teman-teman yang ingin mendengar karya dari Sombanusa, bisa diakses melalui channel youtube Sombanusa


[Wawancara oleh: Ivan Faul Fathoni]






Benbenan.com terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin bergabung dan berkontribusi melalui tulisan, foto, video, dsb. Langsung kirim ke benbenandotcom@gmail.com
nantinya setiap karya yang lolos editing akan kami terbitkan di laman benbenan.com

Terimakasih, selamat berkarya!



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.